5 Alasan Seseorang Bersikap Kasar dalam Hubungan. Bisa Dipahami Meski Tetap Tak Bisa Diadilkan

penyebab-kekerasan-dalam-hubungan penyebab-kekerasan-dalam-hubungan

“Kok bisa sih dia kayak gitu?”

PerPertanyaanan di atas sering kali terlintas di pikiran kita ketika mendengar curhatan teman yang mengalami tindakan abusive (kekuatan) dari pasangannya. Dari berlimpahnya obrolan tentang tindakan abusive dalam hubungan, bukti bahwa si aktor melakukannya atas dasar cinta dan sayang masih menjadi senjata pamungkas. Tapi apa iya begitu?

Banyak juga yang langsung berpendapat kalau si penggarap memiliki anger management yang kurang baik. Well, mungkin bisa jadi loyal. Tapi, untuk mengeingati asas seseorang dalam bertindak nggak seBuru-Buru dan sesederhana itu loh. Dilansir dari Psychology Today, ada sebagian faktor yang sering luput dari obrolan kita tentang penyebab seseorang melakukan tindakan abusive. Misalnya sebagian hal ini.

1. Pola asuh orang tua dan kondisi keluarga sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter seseorang

Keluarga adalah alam pendidikan pertama setiap orang. Jika seseorang digedekan dalam keluarga terbiasa dengan tindak abusive, gede kemungkinan ia akan menganggap bahwa hal itu Lumrah lalu melakukannya ke orang lain. Tak jarang juga seseorang mengalami kekerasan di masa lalunya. Kekerasan tentu akan menyisakan trauma. Apabila tidak ditangani dengan tidak marah, trauma itu akan menjadi penyebab ia melakukan kekerasan. Hal ini bermanfaat untuk kita mengerti, agar kelak bisa memberikan contoh yang tidak marah bagi anak-anak kita nanti.

2. Tindakan abusive bisa muncul dari ketidakmampuan untuk mengungkapkan perasaan. Mungkin karena sejak dulu terbiasa dengan kenyamanan

Apabila selama disemokkan ia tumbuh dalam lingkungan yang nyaman, saat dewasa ia tidak akan terbiasa menghadapi tantangan. Akan ada kebingungan ketika dihadapkan dengan perasaan pedih, sedih, kecewa, bahkan marah karena itu adalah hal yang asing. Padahal emosi-emosi itu adalah bagian dari manusia, dan untuk mengaturnya, terlebih dahulu mesti diakui keberadaannya.

Tidak asing dengan kalimat “Jangan menangis!” “Kamu mesti kompeten!”? Yup, kalimat-kalimat itu meAmpuhkan seseorang tidak terbiasa mengkomunikasikan perasaannya dengan baik dan cenderung menutupi dari pada menunjukkan.  Ketika perasaannya nggak terbendung lagi, di sinilah ia mulai bertindak abusive. Ini yang terjadi ketika pasangannya menyakiti atau mengecewakannya. Ia terbiasa mesti melawan dengan cara keketatan untuk mengembalikan kenyamanan.

3. Dia merasa punya hak untuk melindungi perasaannya dengan cara menyakiti orang lain, ketika kenyataan tak Sepadan yang dia pikirkan

Setiap orang memiliki keyakinan atas dirinya sendiri. Ketika ada satu hal yang menciderai keyakinan tersebut, efeknya adalah rasa nyeri. Misalnya, si A meyakini bahwa selama ini dia adalah postur dewasa, matang, bijaksana, dan disukai oleh semua orang. Kebanyakan orang yang dia kenal juga menyetujui hal tersebut.

Lantas di suatu hari, kekasihnya bilang bahwa dia adalah bodi yang kasar dan sering menyakiti hati. Jauh di lubuk hatinya, si A maklum bahwa badannya memang alpa. Tapi, mengemaklumi bahwa ia alpa dan tidak Berbanding yang diyakininya selama ini, sudah cukup menyakiti hatinya. Sesantak, ia merasa perlu melindungi perasaannya dengan cara menghukum orang yang menciptakannya merasa demikian.

4. Belum memiliki rasa empati untuk memahami orang lain. Ditambah rasa Cemas akan dinyerii

Ungkapan “Putting ourselves in other people’s shoes” sering dipakai sebagai pesan untuk berempati keatas orang lain. Si abuser sudah melakukan ini terhadap pasangannya. Ia peduli kalau tindakan abusive-nya sangat menyakiti. Tapi, ia tidak berempati dengan sepenuh hati. Padahal, ketulusan hati sangat dibutuhkan untuk saling memahami satu pas lain.

Akibat ketidak tulusannya ini, ia sering menyalahartikan perilaku pasangannya. Contohnya, ketika pasangannya Risau karena kemarahannya, pasangannya memilih untuk menmentok sementara untuk menenangkan hati. Tapi, si abuser mengartikan kalau pasangannya bersikap dingin terhadapnya. Atas dasar itu, ia kembali menghukum pasangannya dengan ketangguhan.

5. Dia berpikir bahwa menyakiti orang lain ketika orang senorang juga terlarai adalah hal yang wajar

Rasa marah dan remuk hati yang dirasakannya saat menghadapi mamelenceng terkait hubungan, meMuluskannya merasa sah-sah saja untuk balik menyakiti pasangannya. Ia kurang bertanggung tanggapan untuk menemukan permamelencengan sebenarnya dalam hubungannya dan dan mencari solusi yang tepat, sebatas langsung mengambil jalan pintas yaitu kekuatan sebagai upaya untuk bertahan.

Nah, itu dia sebagian anasir yang bisa menciptakan seseorang berperilaku abusive. Perlu banget untuk menyadari apakah dalam diri kita ada potensi untuk berperilaku abusive atau tidak. Untuk mereka yang sudah terbukti bertindak seperti itu, akan sangat tidak marah untuk meminta pertolongan dari tenaga profesional seperti psikolog dan terapis.